Perkenalkan, namanya Deden. Tubuhnya yang kecil terlihat cukup tegap. Aku seringkali tanpa sengaja menemukannya di depan kampus tempatku dulu berkuliah. Lelaki ngeganteng jikalah ia hidup di era 80-an, perpaduan antara Rano Karno dan Roy
Marteen. Di tangannya, segelas kopi dan sebungkus gorengan selalu berebut
menjadi primadona. Kopi hitam panas itu mengepul dan Deden seperti tak
sabar ingin menghirupnya. Mulutnya yang penuh gorengan meniup-niup sang
kopi. Tangannya gemetar, kakinya yang hanya ditemani sandal jepit murah
bergoyang-goyang seperti bocah yang tengah tekun bermain. Bibirnya
terkadang berkomat-kamit seperti hendak menyemburkan kata-kata, entah karena ia tengah lapar atau
mengidap Skizofrenia.

Hari itu, hanya satu menit aku duduk di
sebelahnya, dan selama itu pula para muda-mudi mahasiswa yang
berseliweran menyapa Deden dengan penuh ejekan seakan ia,
lelaki ngeganteng itu, adalah badut sirkus. Bagiku, tak ada yang salah dengan Deden. Tak ada yang perlu ditertawakan. Dalam segala keterbatasan yang melekat di raganya, ia hanyalah manusia sederhana yang sedang menjalani perputaran dunia.
Cess, rokok pemberianku
dinyalakan dan dihisap dengan segera. Cess, mahasiswa super dandy dengan
blackberry di tangan menahan tawa melihat Deden. Lelaki dan kopi itu
lalu memberikan pemandangan ironi urban yang menggelisahkan: betapa
kita kerap membodohi dan dibodohi realitas, betapa teori dan hipotesa
seringkali terlalu jauh berlari meninggalkan realitas.