Sabtu, 23 Maret 2013

Memilih Ruang Tunggu

Dahulu sekali, ketika stasiun kereta di kota ini masih sangat bersahabat dan mempersilakan siapapun untuk memasuki ruang tunggu, aku senang menghabiskan sore di salah satu bangku yang berjajar panjang di dalamnya. Lalu-lalang kepergian dan kedatangan memang selalu menyenangkan untuk diamati, sulit ditawar bandingannya. Puluhan bahkan mungkin ratusan tangan telah menuliskan stasiun dalam memoar tentang kepergian dan kedatangan. Namun, perjumpaanku dengan stasiun sebenarnya bukan hanya hendak menemui kepergian dan kedatangan. Bukankah segala kepergian dan kedatangan itu yang membuat tempat ini dinamakan stasiun? Sesuatu yang pasti ada di antara derap kaki kuli angkut dan bising mesin diesel.



Menemui stasiun bagiku adalah menentukan pilihan pada ruang tunggu mana aku harus duduk menanti. Kedatanganku di stasiun kemudian selalu menjadi puzzle yang hanya bisa kuselesaikan di detik-detik terakhir. Ruang tunggu kepergian adalah tentang petualangan, tentang perpisahan. Sedang ruang tunggu kedatangan adalah tentang membuka mata, tentang pertemuan. Siapa yang ingin berpisah dan siapa yang ingin bertemu? Siapa yang pernah tahu? Aku hanya turut terserak dalam keramaian yang tak pernah kunjung berhenti. Menanti-nanti kepergian sambil berhadap pada kedatangan

Lalu, dalam penantian yang belum juga mau berhenti, hari itu begitu saja tiba. Petugas peron menatap jemu. Aku melintas tanpa banyak bicara. Di tangan tergenggam tiket termurah yang tersedia di loket. Bunyi peluit panjang memanggil penuh rindu. Roda berdecit-decit pada rel, tubuhku berguncang teratur mengikuti irama. 

" Hendak ke mana, Dik?" Lelaki paruh baya di depanku mencoba memulai percakapan.

Aku hanya tersenyum. Percakapan kami terhenti. Namun, di dalam hati kujawab pertanyaan itu. Ini bukan tentang kota atau stasiun apa yang kutuju. Ini tentang mendatangi sebuah tempat di mana ada seseorang tengah menanti di ruang tunggu kedatangan. Adakah di antara kalian yang mungkin tengah berdiam diri di ruang tunggu itu?

Written by Nugraha Sugiarta (Nunu)
Drawing by Amelia Devita (Devita)  

30 komentar:

  1. Jarang maen di stasiun.. lebih seringnya kalo udah di stasiun langsung naek kereta

    Tempat eBook Lokal

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh datengnya slalu tepat waktu ya :D

      Hapus
  2. sediih.. kemarin waktu nganterin mbah ke stasiun, malah ga boleh masuk. jadi kangen suasana stasiun tempo dulu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. stasiun tempo dulu itu jauh lbh keren sbenernya drpd stasiun2 modern, bawaannya gloomy2 gmn gituu :p

      Hapus
  3. terakhir sering ke stasiun waktu kuliah dibandung dl..sewaktu tol padalarang belum ada..sejak ada tol lebih sering naik bus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama,,, smenjak ada travel jd jarang naik kereta,, :p

      Hapus
  4. setiap weekend, stasiun adalah sahabat yang sering aku datangi dan tinggalin. mungkin sama seperti kamu, tapi aku tidak betah lama. stasiun seolah aku cuma melemparkan senyum sekilas lalu dan tidak ada lambaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi senyum sekilasny gmn tuh bikin kangen gk :)

      Hapus
  5. sudah beberapa kali saya berkunjung ke blog ini, tp mengapa anda tidak pernah berkunjung balik ke blog saya ?? saya sangat sedih :( , mudah2 kali ini anda dapat berkunjung melihat blog saya :) , sukses selalu untuk anda dan keluarga :D

    BalasHapus
  6. stasiun...smpah sampai skrg sy blum prnh mngunjunginya. sringnya cm ke trminal dan bndara. hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, cobain berkunjung skali2, tp terminal dan bandara jg pny crita unik nih pasti, ayo d tunggu nih critany hehe

      Hapus
  7. menarik nih, ada foto yang dipadukan dengan gambar :)

    BalasHapus
  8. itu orang-orangnya lucu banget :3

    suatu saat saya ingin sekali berkunjung ke luar jabodetabek naik kereta, soalnya yang saya pernah hanya suasana stasiun lintas bogor dan jakarta hahaha
    kalo ke bandung pun selalu naiknya bis *ini komen kayaknya curhat* xD

    eh tapi sepertinya stasiun bakal lebih berkesan sekali dibandingkan terminal sih, tapi sekali lagi setiap tempat pasti punya ceritanya tersendiri :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, iya stasiun emng menarik :)

      Hapus
  9. kunjungan perdana gan..
    jika berkenan saya menganjak agan untuk saling follow..

    BalasHapus
  10. dalam sebulan ini aku udah 3 kali menunggu berjam2 di stasiun Tawang, tapi bukan di ruang tunggu nya, di Dunkin DOnuts nya, yg ada ac hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahhaha numpang ngadem ya mil :p

      Hapus
  11. aku lagi ngaudit di medan merdeka barat dan timur, jadi sering ke stasiun juanda naik kereta cl jurusan bekasi. aku turun di st klender.

    hai salam kenal denu...gambar dan tulisan kamu keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. haii salam kenal jugaa :)
      wahh tiap hari donk ya naik kereta..hihi..

      Hapus
  12. waktu SMA, saya akrab banget sama stasiun. Tiap Sabtu Bdg-Jkt, Minggunya Jkt-Bdg. Kangen sama suasana stasiun :)

    BalasHapus
  13. Kata-katanya putis banget. Q suka itu

    BalasHapus
  14. Dulu demen banget naik kereta ke sby buat mudik, tapi sejak 5th yg lalu harga kereta lebih mahal di bandingkan pesawat maka aku beralih ke pswt.

    BalasHapus